27 Feb 2014

Mengenal Jamur Tiram

Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. Merupakan salah
satu jamur konsumsi yang bernilai tingi. Beberapa jenis jamur tiram yang biasa
dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia yaitu jamur tiram putih (P.ostreatus), jamur
tiram merah muda P.flabellatus), jamur tiram abu-abu (P. sajor caju), dan jamur tiram
abalone (P.cystidiosus). Pada dasarnya semua jenis jamur ini memiliki karateristik
yang hampir sama terutama dari segi morfologi, tetapi secara kasar, warna tubuh buah
dapat dibedakan antara jenis yang satu dengan dengan yang lain terutama dalam
keadaan segar.
Di alam liar, jamur tiram merupakan tumbuhan saprofit yang hidup dikayukayu
lunak dan memperoleh bahan makanan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan
organik. Jamur tiram termasuk termasuk tumbuhan yang tidak berklorofil (tidak
memliliki zat hijau daun) sehingga tidak bisamebgolah bajan makanan sendiri. Untuk
memenuhi kebutuhan hidup, jamur tiram sangat tergantung pasa bahan oranik yang
diserap untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan. Nutrisi utama yang
dibutuhkan jamur tiram adalah sumber karbon yang dapat disediakan melalui berbagai
sumber seperti sebuk kayu gergajian dan berbagai limbah organik lain.
Pertumbuhan jamur tiram sangat tergantung pada faktor fisik seperti suhu,
kelembaban, cahaya, pH media tanam, dan aerasi, udara jamur tiram dapat
menghasilkan tubuh buah secara optimum pada rentang suhu 26-28 °C, sedangkan
pertumbuhan miselium pada suhu 28-30° C, kelembaban udara 80-90% dan pH media
tanam yang agak masam antara 5-6. Aerasi merupakan hal penting bagi pertukaran
udara lingkungan tumbuh jamur yaitu engab mempertahankan perdediaan Oksigen
(O2) dan membuang karbon dioksida (CO2), cahaya matahariyang dibutuhkan untuk
pertumbuhan jamur sangat sedikit berkisar antara 50-300 lux atau masih terbacanya
huruf dikoran dalam jarak sedepa.
Beberapa jenis jamur yang telah dikenal petani Indonesia seperti Jamur
merang, jamur kuping, jamur shitake, jamur tiram, jamur merang dan jamur lingzhi
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk dikembangnkan karena cara budidaya
relatif mudah,tidak memerlukan lahan yang luas, prospeknya menjanjikan. Sebagai
Sebagai bahan pangan jamur menjadi salah satu sumber protein seperti thiamine
2
(vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin dan vitmin C serta mineral.
Sebagai bahan fungsional jamur mengandung bahan aktif yang terdiri dari senyawa
polisakarida (glikan), triterpen, nukleotida, monitol, alkoloid dan lain-lain yang
bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Menurut Crisan dan Sands (1978) rata-rata
kandungan protein (% berat kering) dari jamur kuping adalah 4-9%, jamur kancing
24-44%, jamur shitake 10-17%, jamur tiram 10-30%, jamur merang 21-30%. Daya
cerna tubuh terhadap protein yang dikandung jamur pun sangat tinggi berkisar antara
71-90%.
Selain mengandung kandungan senyawa yang penting bagi tubuh jamur juga
telah memerankan peranan penting dalam upaya pengobatan masyarakat sejak
berabad-abad yang lampau. Seorang ahli fisika dari dinasti Ming, Wu Shui, dalam
abad ke-15 telah melaporkan manfaat obat dari jamur shitake. Dilaporkan bahwa
jamur ini dapat meningkatkan fitalitas dan energi, meningkatkan seksualitas dan
mencegah penuaan (Jones, 1990). Akhir-akhir ini produk kesehatan dari ekstrak jamur
lingzhi murni dalam bentu tablet maupun kapsul dengan nama Reishi di Amerika dan
Daxen di Malaysia dan Indonesia telah menjadi primadona yang dapat
menyembuhkan banyak penyakit terutama kanker dan penyakit gula. Secara umum
manfaat jamur Bagi pengobatan dan penyembuhan.
Berdasarkan media tumbuhnya jamur dapat dapat dikatagorikan menjadi jamur
dengan media kayu (tubuh kayu) dan jamur dengan media campuran. Untuk jamur
merang banyak berkembang didaerah dataran rendah teruatama di daerah persawahan.
Pada saat ini Kabupate Kerawang, Jawa Barat dikenal sebagai sentra jamur merang.
Sedangkan jamur dengan media yang berasal dari serbuk kayu antara lain jamur
kuping, jamur tiram putih, jaur tiram abu-abu, jamur shitake. Jamur jenis ini banyak
dikembangkan didaerah dataran tinggi seperti propinsi Jawa Barat (Kabuapten
Bandung, Garut, dan Bogor), Propinsi Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo,
Kab.Magelang, Kab. Solo), Propinsi DIY (Kabupaten Sleman), Propinsi Bali (Kab.
Badung) dan Propinsi Jawa Timur (Kota Batu).
Kondisi disetiap lokasi sangat berbeda tergantng kebiasaan petani setempat.
Namun demikian yang paling penting adalah diperlukannya penguasaan teknik dan
metde produksi terutama dalam pengaturan iklim mikro di dalam rumah jamur
(kubung).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada